Blog

  • Operasi Pekat Dofior Ungkap Dugaan Curas, Polisi Dalami Keterlibatan Remaja 17 Tahun

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Upaya seorang remaja berinisial D.K. (17) untuk meninggalkan Kota Sorong berakhir setelah tim gabungan Polresta Sorong Kota menangkapnya di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Malabutor, Distrik Sorong, pada Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 17.20 WIT.

    Remaja tersebut diamankan karena masuk dalam Target Operasi (TO) Operasi Pekat II Dofior 2026 terkait dugaan tindak pidana pencurian dengan kekerasan (curas) di wilayah Kota Sorong, Papua Barat Daya.

    Penangkapan melibatkan tim Resmob Mangewang Polresta Sorong Kota bersama personel Opsnal Paniki Polsek Sorong Timur, Opsnal Macan Polsek Sorong Kota, dan Opsnal Elang Polsek Sorong Barat.

    Operasi dipimpin Wakasat Reskrim Polresta Sorong Kota, Iptu Besli Arwan Lingga, S.Sos., setelah petugas menerima informasi mengenai keberadaan terduga pelaku yang diduga hendak menuju pelabuhan untuk meninggalkan Kota Sorong.

    Tim gabungan kemudian melakukan pemetaan situasi dan langkah pengamanan untuk mengantisipasi kemungkinan perlawanan maupun upaya melarikan diri. Saat hendak diamankan, D.K. dilaporkan sempat melakukan perlawanan sebelum akhirnya berhasil ditangkap.

    Berdasarkan hasil penyelidikan awal, D.K. diduga berkaitan dengan dua laporan polisi mengenai kasus pencurian dengan kekerasan yang terjadi pada waktu dan lokasi berbeda di Kota Sorong.

    Kasus pertama dilaporkan pada 3 Mei 2026 melalui Laporan Polisi Nomor LP/B/414/V/2026/SPKT/Polresta Sorong Kota/Polda Papua Barat Daya. Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Merpati, Kelurahan Remu Utara, Distrik Sorong, ketika korban sedang berlari pagi.

    Dalam kejadian itu, korban diduga dicegat pelaku yang berusaha merampas telepon genggam dan barang berharga miliknya. Saat korban melakukan perlawanan, korban dipukul hingga terjatuh dan kemudian dipukul menggunakan kayu balok pada bagian kepala. Setelah itu, pelaku melarikan diri.

    Sementara itu, kasus kedua dilaporkan pada 22 September 2026 melalui Laporan Polisi Nomor LP/B/924/IX/2026/SPKT/Polresta Sorong Kota/Polda Papua Barat Daya. Lokasi kejadian berada di Jalan Cendrawasih, Kompleks Aspen, Kelurahan Klagete, Distrik Malaimsimsa.

    Dalam peristiwa tersebut, korban yang hendak berangkat bekerja diduga dicegat dan diancam menggunakan sebilah parang di bagian leher. Pelaku kemudian merampas tas yang berisi barang-barang berharga milik korban.

    Setelah dibawa ke Mako Polresta Sorong Kota, D.K. menjalani pemeriksaan awal. Berdasarkan keterangan kepolisian, remaja tersebut mengakui keterlibatannya dalam dugaan aksi pencurian dengan kekerasan di Jalan Cendrawasih, Kompleks Aspen, serta di sekitar area lintasan lari Kantor Wali Kota Sorong.

    Penyidik juga mendalami dugaan penggunaan benda berbahaya berupa parang, kayu, dan besi untuk mengancam atau melukai korban. Benda-benda tersebut, berdasarkan keterangan awal, diduga telah dibuang ke jurang di kawasan belakang Kompleks Aspen.

    Tidak hanya itu, petugas turut mengembangkan penyelidikan terkait dugaan keterlibatan D.K. dalam kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor), termasuk menelusuri keberadaan barang bukti yang berkaitan dengan perkara tersebut.

    Dalam penanganan perkara, polisi juga menelusuri uang tunai sebesar Rp1 juta yang dilaporkan sebagai hasil pencurian. Uang tersebut disebut telah habis digunakan untuk membeli minuman keras. Sementara itu, satu unit telepon genggam merek Nokia yang berkaitan dengan perkara masih dalam pencarian.

    Saat ini, penyidik melanjutkan pemeriksaan, pengembangan kasus, pencarian barang bukti, serta pemenuhan administrasi penyidikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Mengingat D.K. masih berusia 17 tahun, penanganan perkaranya juga harus memperhatikan ketentuan sistem peradilan pidana anak.

    Pengungkapan kasus ini merupakan bagian dari Operasi Pekat II Dofior 2026 yang dilaksanakan berdasarkan Surat Telegram Kapolda Papua Barat Daya Nomor STR/378/X/OPS.1.3./2026 tanggal 6 Oktober 2026 dan Surat Perintah Kapolda Papua Barat Daya Nomor SPRIN/894/X/OPS.1.3./2026 tanggal 5 Oktober 2026.

    Kapolresta Sorong Kota, Kombes Pol Amry Siahaan, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa jajarannya berkomitmen menindak tindak pidana yang meresahkan masyarakat melalui proses penegakan hukum yang profesional dan sesuai ketentuan perundang-undangan.

    “Pengungkapan ini merupakan bagian dari upaya Polresta Sorong Kota dalam menjaga keamanan dan memberikan rasa aman kepada masyarakat. Kami tidak akan memberikan ruang bagi pelaku kejahatan yang mengganggu situasi kamtibmas di Kota Sorong. Kami juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan segera melaporkan setiap tindak pidana melalui Layanan Polisi 110 yang dapat diakses secara gratis selama 24 jam,” tegas Amry Siahaan.

    Ia menambahkan, penanganan perkara yang melibatkan anak harus dilaksanakan sesuai prosedur hukum yang berlaku, dengan tetap memperhatikan ketentuan khusus dalam sistem peradilan pidana anak.

    Melalui Operasi Pekat II Dofior 2026 dan semangat Polisi Bersama Masyarakat, Polresta Sorong Kota menegaskan komitmennya untuk mengungkap tindak pidana, meningkatkan keamanan, serta menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif.

  • Asap Karhutla Tekan Kunjungan Wisatawan, Raja Ampat Perkuat Layanan Valas

    RAJA AMPAT, MELANESIATIMES.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap di wilayah Papua Barat Daya berdampak terhadap kunjungan wisatawan ke Kabupaten Raja Ampat. Kondisi tersebut turut memengaruhi momentum Oktober yang biasanya menjadi salah satu periode ramai kunjungan wisatawan.

    Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat, Klasina D. Rumbekwan, mengatakan jumlah kunjungan wisatawan pada Oktober belum menunjukkan peningkatan sebagaimana yang diharapkan. Namun, pihaknya belum menghitung secara pasti persentase penurunan kunjungan dibandingkan bulan sebelumnya.

    “Kalau dibandingkan dengan bulan ini, sebenarnya bulan ini hampir sama. Ini sudah mau akhir bulan, sebenarnya sudah harus lebih tinggi. Tetapi kebakaran ini menyebabkan pengaruh yang besar terhadap tingkat kunjungan wisatawan,” kata Klasina saat diwawancarai dalam rangkaian Festival Pesona Raja Ampat 2026.

    Menurutnya, dampak kabut asap tidak hanya dirasakan pada kegiatan festival, tetapi juga pada perjalanan wisatawan. Penundaan hingga pembatalan penerbangan turut memengaruhi kedatangan pengunjung ke destinasi wisata unggulan Papua Barat Daya tersebut.

    Ia menjelaskan, promosi Festival Pesona Raja Ampat 2026 juga belum dapat dilakukan secara maksimal karena kepastian anggaran dan sejumlah persoalan internal. Promosi baru dapat ditingkatkan setelah terdapat kepastian, dengan dukungan media, media sosial, dan Kementerian Pariwisata.

    “Promosi tidak sampai satu bulan. Ada beberapa hal yang menyebabkan kami belum berani melakukan promosi terkait anggaran. Kalau sudah ada kepastian, kami langsung promosi,” ujarnya.

    Di tengah tantangan tersebut, Festival Pesona Raja Ampat 2026 menghadirkan sekitar 20 stan dengan jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ditargetkan mendekati 40 peserta.

    Klasina menyebutkan, tidak seluruh UMKM yang telah mendaftar hadir membawa produk usahanya. Ia mencontohkan peserta dari Merauke yang telah mendaftar, tetapi perwakilan yang datang tidak membawa pelaku UMKM sebagaimana direncanakan.

    Festival ini diharapkan tetap menjadi ruang promosi produk lokal sekaligus memperluas peluang pemasaran bagi pelaku usaha di Raja Ampat.

    Selain kegiatan promosi pariwisata dan UMKM, peningkatan layanan bagi wisatawan mancanegara menjadi salah satu agenda penting melalui pembukaan layanan penukaran valuta asing atau money changer di Bank Papua.

    Klasina menyambut baik layanan tersebut karena selama ini wisatawan asing mengalami kesulitan menukarkan mata uang asing ke rupiah di Raja Ampat. Menurutnya, layanan penukaran yang tersedia sebelumnya belum dapat diandalkan secara konsisten.

    “Kami sangat bersyukur karena penukaran valuta asing ini sudah ada. Ini sangat penting untuk membantu wisatawan asing yang selama ini kesulitan mencari tempat menukar uang,” katanya.

    Ia menjelaskan, ketersediaan rupiah sangat dibutuhkan wisatawan ketika berkunjung ke kampung-kampung, terutama untuk membayar jasa transportasi perahu, kegiatan menyelam (diving), serta membeli hasil usaha masyarakat setempat.

    Menurut Klasina, transaksi menggunakan mata uang asing selama ini menjadi kendala bagi wisatawan yang ingin berbelanja langsung di kampung-kampung, sebab masyarakat setempat umumnya membutuhkan pembayaran dalam rupiah.

    Karena itu, ia berharap layanan penukaran valuta asing dapat diperluas hingga kawasan pelabuhan. Saat ini, layanan tersebut baru tersedia di kantor Bank Papua, sedangkan di pelabuhan baru terdapat fasilitas ATM.

    “Kami meminta kalau bisa ada satu konter kecil di pelabuhan, supaya wisatawan bisa langsung menukar uang. Dengan begitu, ketika mereka pergi ke kampung, mereka sudah memegang rupiah dan bisa berbelanja di sana,” ujarnya.

    Klasina menilai layanan penukaran valuta asing tidak hanya mempermudah wisatawan, tetapi juga berpotensi mendorong perputaran ekonomi masyarakat di destinasi wisata.

    Dengan tersedianya rupiah, wisatawan mancanegara diharapkan lebih mudah membeli produk lokal dan menggunakan jasa masyarakat, termasuk ketika berkunjung ke kampung-kampung yang belum memiliki fasilitas pembayaran elektronik.

    Ia berharap penguatan layanan tersebut menjadi bagian dari peningkatan kualitas pelayanan pariwisata Raja Ampat, sekaligus memperluas manfaat ekonomi sektor pariwisata agar dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.

    Di tengah tekanan akibat karhutla dan gangguan perjalanan, peningkatan pelayanan dasar bagi wisatawan menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga daya tarik Raja Ampat sebagai destinasi wisata internasional.

  • Produk Kampung Maybrat Bidik Pasar Internasional, Kacang Sangrai dan Keripik Keladi Tampil di TEI 2026

    Melanesiatimes.com, Maybrat PBD – Potensi ekonomi kampung di Kabupaten Maybrat mulai mendapat ruang lebih luas untuk dikenal pasar. Dua produk olahan pangan lokal, Kacang Sangrai dan Keripik Keladi, dibawa dalam ajang perdagangan internasional Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 sebagai upaya memperkenalkan produk unggulan desa sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Jumat (16/10/2026).

    Keikutsertaan kedua produk tersebut menjadi bagian dari upaya Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) Kabupaten Maybrat dalam mendorong usaha masyarakat desa agar berkembang, memiliki nilai tambah, dan mampu bersaing di tengah peluang pasar yang semakin terbuka.

    Dua produk itu berasal dari Distrik Ayamaru Tengah, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Kacang Sangrai merupakan produk unggulan BUM Desa Kaka Tua Semu, sedangkan Keripik Keladi diproduksi oleh BUM Desa Mandiri Men.

    Partisipasi kedua badan usaha milik desa (BUM Desa) tersebut difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan Daerah Tertinggal sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan usaha produktif masyarakat di wilayah pelaksanaan Program TEKAD.

    Koordinator Program TEKAD Kabupaten Maybrat, Yansen Frasawi, menyampaikan bahwa keikutsertaan kedua BUM Desa tersebut merupakan kesempatan strategis untuk memperkenalkan produk unggulan kampung kepada masyarakat yang lebih luas.

    Menurut Yansen, Kacang Sangrai dan Keripik Keladi memperlihatkan bagaimana potensi lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Kesempatan mengikuti pameran internasional diharapkan dapat mendorong pelaku usaha desa semakin percaya diri dalam mengembangkan produk dan memperluas jangkauan pemasaran.

    “Keikutsertaan dalam Trade Expo Indonesia menjadi kesempatan bagi produk unggulan desa di Kabupaten Maybrat untuk lebih dikenal dan membuka peluang pasar yang lebih luas,” ujar Yansen.

    Ia berharap kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk membangun hubungan bisnis, mengenalkan keunggulan produk, serta menjajaki peluang kerja sama dengan calon pembeli dan mitra usaha.

    “Produk lokal memiliki potensi untuk berkembang apabila didukung peningkatan kualitas, kemasan yang menarik, serta strategi pemasaran yang tepat,” katanya.

    Dalam kegiatan tersebut, BUM Desa Mandiri Men diwakili oleh direkturnya, Sonita Naa. Kehadirannya diharapkan dapat memperluas promosi produk, membangun jejaring usaha, menjalin kemitraan dengan calon pembeli, sekaligus memperoleh informasi mengenai kebutuhan dan perkembangan pasar.

    Selain promosi, kesiapan produk menjadi faktor penting untuk memperluas pemasaran. Berdasarkan informasi Program TEKAD, kedua produk tersebut telah memiliki izin usaha dan izin edar. Kelengkapan legalitas ini menjadi modal untuk mendukung pemasaran sesuai ketentuan yang berlaku dan meningkatkan kepercayaan konsumen.

    Produk Kampung Maybrat Bidik Pasar Internasional, Kacang Sangrai dan Keripik Keladi Tampil di TEI 2026
    Produk unggulan Maybrat, Kacang Sangrai dan Keripik Keladi tembus Pasar Dunia

    Trade Expo Indonesia merupakan pameran dagang internasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Ajang ini menjadi sarana untuk mempromosikan produk Indonesia, mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra bisnis, serta membuka peluang perluasan pasar, termasuk perdagangan ekspor.

    Bagi Kabupaten Maybrat, partisipasi ini diharapkan tidak hanya memperkenalkan Kacang Sangrai dan Keripik Keladi, tetapi juga membuka jalan bagi produk-produk desa lainnya untuk mendapatkan kesempatan serupa.

    “Harapan kami, produk unggulan kampung dapat terus berkembang, memiliki daya saing, dan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan pendapatan masyarakat serta penguatan ekonomi desa,” tutur Yansen.

    Ke depan, peningkatan kapasitas produksi, standardisasi mutu, perbaikan kemasan, promosi, dan penguatan jaringan distribusi perlu terus dilakukan agar usaha yang dibangun masyarakat dapat berkembang secara berkelanjutan.

    Melalui Program TEKAD, Kabupaten Maybrat terus mendorong pengembangan usaha berbasis potensi lokal agar produk kampung tidak hanya dikenal di daerah sendiri, tetapi juga berpeluang menjangkau pasar regional, nasional, hingga internasional.

  • Alumni Angkatan 93 Salurkan Sembako bagi Dewan Guru SMP Negeri 8 Kota Sorong

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Wujud kepedulian terhadap para pendidik dan almamater ditunjukkan Alumni SMP Negeri 1 Salawai Doom Angkatan 93 dengan menyalurkan bantuan sembako bagi dewan guru SMP Negeri 8 Kota Sorong, merupakan rangkaian dari acara Dies Natalis SMP Negeri 8 Kota Sorong ke 44 Tahun. Jumat (16/10/2026).

    Penyerahan bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian dan ungkapan kasih para alumni kepada para guru serta pegawai yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan di sekolah yang dahulu dikenal sebagai SMP Negeri 1 Salawati Doom tersebut.

    Ketua Alumni SMP Negeri 1 Salawati Doom Angkatan 93, Markus N. Yekwam, S.IP., mengatakan, bantuan sembako yang diberikan bukan dinilai dari besar kecilnya jumlah barang, melainkan dari ketulusan dan kepedulian alumni terhadap para guru dan almamater.

    “Jangan melihat dari besar atau jumlah barang yang kami berikan. Ini merupakan wujud rasa peduli kami sebagai alumni. Kami ingin terus menjalin hubungan silaturahmi dengan para guru dan seluruh keluarga besar SMP Negeri 8 Kota Sorong,” ujarnya.

    Menurut Markus, hubungan antara alumni dan almamater perlu terus dijaga melalui kebersamaan dan kepedulian nyata. Ia berharap, kegiatan tersebut dapat menjadi awal untuk mendorong alumni lainnya agar turut berkontribusi bagi kemajuan sekolah.

    Ia juga menyampaikan harapannya agar di hari Disnatalis ke-44 tahun ini, SMP Negeri 8 Kota Sorong semakin berkembang dan mampu menjadi sekolah unggulan, khususnya di Pulau Doom.

    “Semoga sekolah SMP Negeri 8 Kota Sorong, menjadi SMP unggulan secara khusus di Pulau Doom,” ungkapnya.

    Sementara itu, Kepala SMP Negeri 8 Kota Sorong menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Alumni Angkatan 93 atas bantuan sembako yang diberikan kepada dewan guru dan pegawai sekolah.

    “Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Alumni Angkatan 93 atas cinta dan tanda kasih yang telah diberikan kepada kami, Bapak dan Ibu Guru serta seluruh pegawai yang ada di SMP Negeri 8 Kota Sorong,” tuturnya.

    Bantuan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi para penerima, tetapi juga semakin mempererat hubungan kekeluargaan antara alumni dan pihak sekolah.

    Kepedulian Alumni Angkatan 93 menjadi bukti bahwa ikatan dengan almamater tetap terjaga, sekaligus menjadi dorongan bagi tumbuhnya semangat kebersamaan dalam mendukung kemajuan pendidikan di Pulau Doom.

  • Raja Ampat Jadi Ikon Pariwisata, Pemprov PBD Akui Tak Biayai Festival Pesona 2026

    RAJA AMPAT, MELANESIATIMES.COM — Kabupaten Raja Ampat menjadi salah satu wajah utama pariwisata Papua Barat Daya. Namun, di tengah posisi strategis tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, mengakui pemerintah provinsi tidak membantu pembiayaan Festival Pesona Raja Ampat 2026, agenda tahunan yang turut mempromosikan destinasi unggulan daerah.

    ‎Yusdi menjelaskan, pembiayaan festival bersumber dari pemerintah pusat, sedangkan beban pengeluaran terbesar ditanggung Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. Ia juga mengakui Pemprov Papua Barat Daya tidak memberikan bantuan pembiayaan untuk penyelenggaraan tahun ini.

    ‎“Festival Pesona Raja Ampat merupakan agenda tahunan. Pembiayaannya bersumber dari pemerintah pusat, sementara pengeluaran paling besar ditanggung pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. Untuk tahun ini, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya tidak membantu pembiayaan kegiatan tersebut,” ujar Yusdi Lamatenggo.

    ‎Pengakuan tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: jika Raja Ampat menjadi salah satu etalase pariwisata provinsi, mengapa pemerintah provinsi tidak ikut menopang pembiayaan agenda promosinya?

    ‎Besarnya peran pariwisata Raja Ampat juga tercermin dalam dokumen perencanaan nasional. Lampiran RPJMN 2025–2029 mencantumkan indikator pariwisata Raja Ampat, antara lain pendapatan dari wisatawan nusantara, tenaga kerja pariwisata, dan devisa pariwisata. Data itu menunjukkan sektor ini memiliki nilai ekonomi dan dampak terhadap lapangan kerja yang perlu diperhitungkan dalam kebijakan pembangunan. Angka tersebut dengan sendirinya membuktikan bahwa Raja Ampat merupakan penyumbang bagi perekonomian provinsi.

    ‎Festival Pesona Raja Ampat bukan sekadar seremoni. Kegiatan ini menjadi ruang promosi destinasi, produk UMKM, dan peluang ekonomi masyarakat. Ketika kabupaten menanggung porsi pembiayaan terbesar, pemerintah provinsi perlu menjelaskan bentuk dukungan lain yang diberikan, termasuk promosi, fasilitasi investasi, dan pengembangan industri pariwisata berkelanjutan.

    ‎Publik berhak meminta transparansi: apakah tidak adanya bantuan pembiayaan merupakan keputusan kebijakan, keterbatasan anggaran, atau pembagian kewenangan? Pemprov Papua Barat Daya perlu menjawabnya secara terbuka agar dukungan terhadap pariwisata Raja Ampat tidak berhenti pada pengakuan atas nama besarnya, tetapi diwujudkan dalam kontribusi yang terukur.

  • Wagub PBD Sebut Belum Ada Anggaran Karhutla Raja Ampat, BTT Dipertanyakan

    RAJA AMPAT, MELANESIATIMES.COM — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, yang telah berlangsung berbulan-bulan, kembali menjadi sorotan. Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nuasrau menyebut belum tersedia anggaran penanganan karhutla saat pembukaan Festival Pesona Raja Ampat 2026, meski pemerintah provinsi disebut sedang mencari alternatif penanganan.

    Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai langkah konkret pemerintah provinsi, terutama ketika masa penanganan darurat telah diperpanjang berulang kali. Apakah mekanisme Belanja Tidak Terduga (BTT) sudah dikaji, dan apa kendala yang membuat dukungan anggaran belum tersedia?

    Persoalan ini semakin mendesak karena Raja Ampat bukan hanya menjadi wilayah penghasil asap akibat kebakaran lokal, tetapi juga disebut menerima asap kiriman dari Papua Barat, Papua Barat Daya, Maluku, dan Maluku Utara. Dampaknya berpotensi memperluas ancaman terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.

    Berdasarkan data BPBD Raja Ampat per 7 Oktober 2026, tercatat 143 titik api dengan luas lahan terdampak 1.254,26 hektare. Sebanyak 1.195,2 hektare dilaporkan telah padam, sementara sekitar 59 hektare masih belum padam.

    Secara hukum, PP Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, khususnya Pasal 68 dan 69, mengatur penggunaan BTT untuk kebutuhan mendesak sesuai ketentuan. Sementara itu, UU Nomor 24 Tahun 2007 menegaskan tanggung jawab pemerintah dalam penanggulangan bencana.

    Ketersediaan BTT memang tidak otomatis menjamin anggaran dapat langsung dicairkan. Namun, pemerintah provinsi perlu menjelaskan secara terbuka apakah skema tersebut telah dikaji, bagaimana kondisi anggarannya, serta apa hambatan yang dihadapi.

    Di tengah karhutla yang berkepanjangan dan ancaman asap lintas wilayah, publik membutuhkan lebih dari sekadar pernyataan sedang mencari alternatif. Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya perlu menjelaskan langkah nyata, skema pendanaan, dan bentuk dukungan yang akan diberikan untuk mempercepat penanganan karhutla di Raja Ampat.

  • Wali Kota Sorong Bersama Ibu, Sambangi Lokasi Kebakaran, Pastikan Kondisi Warga Pascakebakaran

    Melanesiatimes.com, Kota Sorong – Kebakaran hebat yang melanda kawasan Malibela, Kilometer 11,5, Kota Sorong, Papua Barat Daya, menghanguskan tiga unit rumah warga hingga rata dengan tanah dan menyebabkan kerugian material bagi keluarga terdampak. Menyikapi musibah tersebut, Wali Kota Sorong, Septinus Lobat, S.H., M.P.A., turun langsung meninjau lokasi kebakaran di Jalan Malibela, RW 06, RT 03, tepatnya di belakang Batalyon 762/RK.

    Dalam peninjauan tersebut, Wali Kota Sorong didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Sorong, Jemima Elisabeth Windesi, S.K.M., M.A.P. Kunjungan ini dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi bangunan yang terbakar serta mengetahui keadaan keluarga korban setelah kehilangan tempat tinggal akibat peristiwa tersebut.

    Kebakaran terjadi pada Selasa (13/10/2026) sekitar pukul 23.50 WIT. Kobaran api melalap tiga unit rumah warga, termasuk rumah milik keluarga S. Koridama. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 00.30 WIT, setelah menghanguskan bangunan hingga rata dengan tanah.

    Dampak kebakaran tersebut tidak hanya berupa kerusakan bangunan, tetapi juga menjadi pukulan berat bagi keluarga yang terdampak karena harus menghadapi kondisi pascakebakaran. Situasi ini membutuhkan perhatian agar keadaan warga dan kebutuhan mereka setelah musibah dapat diketahui secara langsung.

    Kehadiran Wali Kota Sorong bersama jajaran pemerintah daerah di lokasi menjadi wujud kepedulian dan dukungan moral kepada keluarga korban. Peninjauan tersebut sekaligus menunjukkan perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang tengah menghadapi situasi sulit akibat bencana kebakaran.

    Berdasarkan informasi yang dihimpun, tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Sementara itu, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang.

    Pemerintah Kota Sorong mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di lingkungan permukiman. Warga diminta memastikan instalasi listrik dalam kondisi aman serta berhati-hati dalam menggunakan kompor dan sumber api lainnya guna mencegah terjadinya kejadian serupa.

    Melalui peninjauan ini, Pemerintah Kota Sorong menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, terutama ketika warga tertimpa musibah dan membutuhkan perhatian bersama. (***)

  • Sambut HUT ke-24 Propam Polri, Bidpropam Polda PBD Salurkan Sembako dan Air Bersih

    Melanesiatimes.com, Aimas PBD – Memperingati Hari Jadi ke-24 Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri, Bidpropam Polda Papua Barat Daya menggelar aksi bakti sosial dengan menyalurkan bantuan bahan kebutuhan pokok kepada anak-anak panti asuhan serta bantuan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kemarau panjang, Kamis (15/10/2026).

    Kegiatan sosial tersebut menyasar dua panti asuhan di Kabupaten Sorong, yakni Panti Asuhan Cipta Waris Papua yang berlokasi di Jalan Sandiwon, Aimas, serta Panti Asuhan Al-Hijrah Putra Putri Papua Muslim di Jalan Lobak, Kelurahan Malasom, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong.

    Bakti sosial ini dipimpin langsung oleh Kabid Propam Polda Papua Barat Daya, AKBP Mathias Yosias Krey, S.Pd., bersama PS Kasubbid Provos AKP Brury, S.H., Kasubbid Paminal AKP Arifal Utama, S.T.K., S.H., S.I.K., M.H., para kasubbid, kasubbag, serta personel Bidpropam Polda Papua Barat Daya.

    Kasubbid PID Bidhumas Polda Papua Barat Daya, Kompol Jenny S.A. Hengkelare, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap masyarakat, terutama anak-anak panti asuhan dan warga yang membutuhkan bantuan.

    Penyaluran sembako diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari anak-anak panti asuhan. Sementara itu, bantuan air bersih diberikan sebagai upaya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar di tengah dampak kemarau panjang.

    Menurutnya, momentum Hari Jadi ke-24 Propam Polri tidak hanya menjadi ajang untuk memperkuat komitmen terhadap profesionalisme dan integritas, tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat.

    Melalui kegiatan ini, Bidpropam Polda Papua Barat Daya ingin menegaskan bahwa kehadiran Polri tidak sebatas menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga diwujudkan melalui aksi kemanusiaan yang memberikan manfaat secara langsung.

    Semangat “Polisi Bersama Masyarakat” menjadi landasan penting dalam membangun hubungan yang harmonis antara institusi Polri dan warga. Kepedulian sosial, kebersamaan, serta semangat gotong royong diharapkan dapat semakin mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap Polri.

    Peringatan Hari Jadi ke-24 Propam Polri juga menjadi momentum bagi seluruh personel untuk terus meningkatkan profesionalisme, menjaga integritas, serta mengedepankan pendekatan humanis dalam menjalankan tugas dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

    Melalui aksi berbagi tersebut, Bidpropam Polda Papua Barat Daya berharap semangat kepedulian terhadap sesama terus tumbuh dan menjadi bagian dari pengabdian Polri, sehingga keberadaan institusi kepolisian benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

  • Festival Pesona Raja Ampat 2026 Hadirkan 20 Stan UMKM dan Program Unggulan

    RAJA AMPAT, MELANESIATIMES.COM — Festival Pesona Raja Ampat 2026 menjadi ajang promosi pariwisata dan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus momentum peluncuran program ORISUN (Orang Raja Ampat Hidup Sejahtera di Usia Senja) dan layanan penukaran valuta asing (money changer) oleh Bank Papua.

    Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat, Klasina Rumbekwan, mengatakan festival tahun ini menghadirkan 20 stan dengan target partisipasi sekitar 40 UMKM. Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Kementerian Desa, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pariwisata, Bappenas, Kedutaan Australia, serta jajaran direksi Bank Papua.

    “Stan ada 20. UMKM-nya sekitar hampir 40,” ujar Klasina saat menjelaskan partisipasi pelaku usaha dalam Festival Pesona Raja Ampat 2026.

    Menurutnya, festival ini menjadi ruang promosi bagi produk lokal sekaligus sarana memperkenalkan potensi pariwisata Raja Ampat kepada pengunjung dan tamu dari berbagai instansi.

    Salah satu agenda yang mendapat perhatian ialah peluncuran layanan money changer Bank Papua untuk memudahkan wisatawan mancanegara menukarkan mata uang asing ke rupiah.

    Klasina menyebut layanan tersebut penting karena wisatawan asing selama ini mengalami kesulitan mencari tempat penukaran uang yang mudah diakses di Raja Ampat.

    “Ini sangat membantu karena wisatawan asing itu mereka sangat susah untuk mencari tempat penukaran uang di sini,” katanya.

    Ia berharap layanan tersebut dapat dikembangkan hingga ke kawasan pelabuhan agar wisatawan lebih mudah menukarkan uang sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata.

    Sementara itu, program ORISUN menjadi bagian dari agenda pemerintah daerah untuk mendukung kesejahteraan masyarakat Raja Ampat pada usia lanjut.

    Melalui Festival Pesona Raja Ampat 2026, pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat promosi pariwisata, memperluas kesempatan usaha bagi UMKM, meningkatkan pelayanan bagi wisatawan, serta mendorong kesejahteraan masyarakat lokal.

  • Festival Pesona Raja Ampat 2026, Pemda Luncurkan Program ORISUN dan Money Changer

    RAJA AMPAT, MELANESIATIMES.COM — Pemerintah Kabupaten Raja Ampat meluncurkan program ORISUN (Orang Raja Ampat Hidup Sejahtera di Usia Senja) dan layanan money changer dalam rangkaian Festival Pesona Raja Ampat 2026. Kedua program ini ditujukan untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi dan pelayanan bagi wisatawan.

    ORISUN merupakan program yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat lanjut usia di Raja Ampat. Program ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan warga dapat menjalani masa tua secara lebih layak, aman, dan sejahtera.

    Peluncuran ORISUN juga menjadi bagian dari upaya mendorong pembangunan yang inklusif. Pemerintah menempatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk kelompok lanjut usia, sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah.

    Di sisi lain, layanan money changer disiapkan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Raja Ampat. Sebagai destinasi wisata bahari unggulan, Raja Ampat membutuhkan layanan keuangan yang memudahkan wisatawan menukarkan mata uang selama berada di daerah tersebut.

    Ketersediaan layanan ini diharapkan meningkatkan kenyamanan wisatawan dan memperkuat ekosistem pariwisata. Dampaknya juga diharapkan dirasakan pelaku usaha lokal, seperti pengelola penginapan, transportasi, jasa wisata, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), melalui peningkatan perputaran ekonomi.

    Melalui Festival Pesona Raja Ampat 2026, pemerintah daerah berupaya menyinergikan pengembangan pariwisata dengan program kesejahteraan sosial dan penguatan ekonomi lokal. ORISUN dan money changer memiliki sasaran berbeda, tetapi sama-sama diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memperkuat layanan pendukung pariwisata.

    Keberhasilan kedua program tersebut akan bergantung pada pelaksanaan yang konsisten, mekanisme layanan yang jelas, serta manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat dan wisatawan. Dengan demikian, festival ini tidak hanya menjadi ajang promosi alam dan budaya, tetapi juga momentum menghadirkan pelayanan publik dan pembangunan ekonomi yang lebih inklusif serta berkelanjutan.